0



Dibui semilir angin bukit dan tertutup oleh rimbunan pohon jati siapapun tidak akan menyangka ada “emas hijau” yang menancar di balik bukit yang malu-malu. Itulah kondisi yang akan kita rasakan begitu memasuki sebuah dusun di Desa Papringan Kecamatan Temayang.
sebuah dusun kecil bernama Dusun Joho orang luar tidak akan mengetahui bahwa desa tersebut masih di wilayah Desa Papringan karena jika ingin ke susun tersebut harus melalui kecamatan Gondang tepatnya desa Pajeng yang menjadi wilayah kecamatan tersebut dan jarak dari dusun Joho ke desanya sekitar 29 Km karena akses jalan yang memutar. 
Tapi dibalik semua itu Desa Joho memiliki potensi yang luar biasa ada emas hijau di sana. Jangan salah tafsir emas hijau yang dimaksud adalah hamparan bawang merah yang tumbuh subur di daerah tersebut.
Kapan awalnya sejarah adanya tanaman bawang merah merupakan tanaman turun temurun sehingga belum ada sentuhan teknologi dalam budidaya tanaman tersebut. Bawang Merah sebagia salah satu merupakan tanaman semusim yang banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. 
Kebutuhan akan komoditas ini semakin meningkat karena hampir semua masakan membutuhkan komoditas ini. Tuntutan pasar akan mutu dan persyaratan kesehatan semakin tinggi. Tuntutan pasar akan produk pertanian segar tidak saja bebas pestisida tetapi telah berkembang pada tuntutan produk pertanian yang bebas bahan kimia dan prosesnya yang tidak merusak lingkungan.
Budidaya bawang merah yang dilakukan petani Indonesia umumnya belum mengikuti sepenuhnya kaidah budidaya yang benar. Hal ini mengakibatkan usaha agribisnis komoditas ini belum memberikan hasil yang optimal bagi pelakunya. 
Oleh sebab itu, perbaikan tingkat kesuburan lahan dengan penggunaan pupuk organik yang optimal, penerapan tehnik budidaya secara benar, perbaikan penanganan pasca panen, prosesing dan pemasaran perlu dilakukan agar hasil panen bawang merah mempunyai nilai tambah.
         Dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan untuk ekspor diperlukan produk yang mempunyai kualitas baik dan aman komsumsi.  Untuk itu proses produksi perlu dilakukan secara baik sesuai Standart Operational Procedure      ( SOP ) yang bersifat lokal spesifik berbasis Good Agriculture Practise ( GAP ) atau norma budidaya yang baik.
          Pada bulan Juni 2011 Kelompok Tani Sedyo Utomo II Dusun Joho Berkesempatan melakukan kegiatan Sekolah lapang GAP bawang merah dan sampai sekarang telah menerima sertifikat regristrasi lahan untuk bawang merahsehimgga telah tercatat secaa online bawah sentra bawang merah ada di daerah tersebut.
Bawang merah merupakan sayuran umbi yang populer di masyarakat mengigat fungsinya sebagai bumbu penyedap masakan sehari-hari dan juga banyak dimanfaatkan sebagai obat.  Dalam pengembangan bawang merah, peran benih sebagai sarana produksi tidak dapat digantikan oleh sarana lain, sehingga upaya pengembangannya sangat ditentukan mutu benihnya. 
Upaya peningkatan ketersediaan benih bermutu bawang merah dari dalam negeri perlu dilakukan dengan cara meningkatkan ketersediaan benih sumber dan memperbaiki penerapan tehnologi produksinya.
Ketersediaan benih yang bermutu dan bersertifikat dilapangan masih sangat kurang. Untuk kebutuhan di Bojonegora masih belum mencukupi. Produksi yang di hasilkan saat ini dari 9 ha lahan penangkaran  baru 54 ton oleh sebab itu kami Kelompok Tani “SEDYO UTOMO II” terus berupaya membuat penangkaran benih bawang merah dengan nama PB. SEDYO UTOMO dengan dibawah bimbingan dari DIPERTA Bojonegoro dan pengawasan dari UPT PSBTPH Jawa Timur.

Posting Komentar

 
Top