0


BUDIDAYA SAYURAN ORGANIK

Pertanian organik adalah teknik budidaya tanaman tanpa memakai pupuk kimia dan pestisida kimia.
Untuk meningkatkan keberhasilan budidaya sayuran organik, cara penanamannya dapat memanfaatkan pupuk kandang, pupuk hijau, endapan minyak, bahan-bahan organg belum tercemar baik didalam maupun diluar lahan, dan kompos yang terdiri dari mineral yang kaya nutrisi. Hal tersebut bertujuan untuk memperbaiki kesuburan tanah dan memenuhi nutrisi yang diperlukan oleh tanaman.
Kerusakan tanah bisa dihindari melalu pemeliharaan tanah, kualitas sumber air dan lingkungan lahan pertaniah, serta perlindungan kontinuitas produksi lahan. Sedangkan hasil yang berkualitas, aman dan sehat bisa dilakukan dengan upaya pengendalian pada saat penanaman, pengendalian secara fisik, serta pengendalian secara alamiah baik pada hama maupun gulma yang merugikan.
Secara singkat, pertanian organik tidak hanya untuk mempertahankan keseimbangan kondisi alamiah lingkungan dan menghasilkan sayuran yang sehat dan aman, tapi juga untuk mempertahankan kontinuitas penggunaan lahan pertanian.




BUDIDAYA SAYURAN ORGANIK

(1) Persyaratan Kondisi Lahan Sayuran
Syarat utama yang diperlukan untuk membudidayakan sayuran organik adalah kondisi lingkungan seperti tanah, udara dan air yang tidak tercemar bahan kimia, kualitas tanah yang baik, serta pengairan lokal yang mencukupi.



(2) Persiapa Lahan
Lahan disiapkan dengan membuat bedeng atau green house pada kebun sayur, sedangkan penutupan dengan net/jaring bertujuan untuk menghindari air hujan dan mencegah serangan hama.



(3) Pemilihan Jenis Tanaman
Serangan hama bisa bervariasi tergantung dari jenis tanaman, maka sebaiknya dipilih sayuran dengan ketahanan serangan hama kuat seperti ketela, kangkung, daun selada atau sayuran yang mudah dibudidayakan seperti sawi putih, sawi dan baby bok choy dan lain-lain.



(4) Pengaturan Pupuk



a. Pupuk organik padat
Pupuk organis padat biasa digunakan sebagi pupk dasar sebelum penanaman. Pada sayuran berdaun, biasanay ppuk disebar pada laha kemudian tanah diratakan lalu ditanami sayuran. Pada an yang ditanam dengan metode baris, jarak harus ditentukan terlebih dahulu kemudian dilakukan penanaman. 

Pupuk organik pada yang digunakan pada tanaman organik sebaiknya dibuat sendiri sehingga kualitasnya bisa lebih terjamin. Jika memerlukan pupuk organik yang ada di pasaran, maka harus diperiksa terlebih dahulu kandungan yang terdapat didalamnya khusunya bahan-bahan kimia. Penggunaan pupuk organik harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yang bersangkutan, jika diperlukan bisa ditambah sedikit campuran tanaman mineral unsur hara atau unsur organik yang lain dan campuran lain untuk memperbaikin unsur hara tanah.
Pembuatan pupuk organik padat sebaiknya dilakukan dalam ruangan tertutup. Campur rata semua bahan yang sudah tersedia, sesuaikan dengan kandungan air dan perbandingan CN (Carbon-Nitrogen), setelah itu ditimbun.
Dalam proses penimbunan, saat suhu mencapai 60-70 derajat celcius timbunan harus dibalik. Waktu yag diperlukan sampai pupuk matang dan penggunaan berbeda, biasanya setelah 60 hari baru bisa digunakan.



b. Pupuk organik cari
Pupuk organik cair biasanya menggunakan kedelai atau ampas kedelai. Bubuk kedelai yang sudah dihaluskan ditambah bahan yang lain seperti brambut, tetes, mikroba yang menguntungkan dan air bersih. Setelah beberapa saat akan menghasilkan pupuk organik cair (tabel 1). Pada saat digunakan, diperlukan 100 sampai 300 kali pengenceran, penggunaan bisa dengan cara disemprotkan langsung pada daun atau dialirkan secara langsung, ini hasilnya akan lebih baik.




PENGENDALIAN HAMA
Pengendalian hama pada sayuran organik bukan dengan cara membasmi sampai ke akarnya melainkan melalui pengamatan selama proses penanaman, yaitu bagaimana tanaman bisa hidup berdampingan dengan hama, tujuannya adalah keseimbangan alam.


Cara yang digunakan adalah sebagai berikut:
(1). Pengendalian pada saat penanaman
Cara ini menggunakan teknik pada saat penanaman guna mencegah serangan hama. Cara yang digunakan meliputi pengelolaan tanah, rotasi tanaman, pemilihan jenis tanaman yang tahan terhadap serangan hama dan pemilihan waktu tanam. Cara pengelolaan tanah yang uum digunakan adalah merendam dengan air atau membajak (membalik) tanah. Meredam dengan air akan mematikan telur hama, hama yang masih muda atau kepompong.
Rotasi tanaman yang seseuai dapat mengurangi bahaya serangan hama, misalnya rotasi tanaman musim hujan dan musim kemarau, rotasi tanaman antara tanaman kacang-kacangan dan tanaman lain dapat memberi hasil yang baik. Pembibitan dengan menggunakan plug terlebih dahulu, baru kemudian dilakukan penanaman akan dapat memperpendek waktu pertumbuhan sayuran di lahan. Hal ini juga bisa mencegah serangan hama dan mengendalikan rumput. Cara yng sering dipakai ini adalah cara pencegahan hama yang baik.


(2). Pengendalaian secara fisik
Cara pencegahan ini menggunakan alat-alat dan cara lain untuk menghindari serangan hama. Cara yang biasa digunakan adalah pentutupan, menangkap dan mematikan, memancing dan mematikan, dll. Cara penutupan yang digunakan misalnya membuat green house untuk penanaman, pembuatan parit disekeliling green house dan direndam air atau penggunaan pembungkus pada tanaman aneka labu, dll Cara menangkap dan mematikan adalah dengan menangkap langsung, baik dengan tangan maupun dengan jaring untuk kemudian dimatikan atau dengan menyiasati kebiasaan hama tanaman dengan menggunakan kertas perekat berwarna untuk menangkap dan mematikan hama. Cara lain yang bisa digunakan adalah menggunakan lampu untuk memancing hama, atau dengan umpan makanan seperti air gula, jambu, pepaya, belimbing yang dicampur dengan sedikit obat dan diletakkan di sekitar lahan hama. Hama yang tertangkap bisa dimatikan.


(3). Pengendalian dengan obat-obatan alami
Obat-obatan alami adalah obat yang tersedia di alam atau bahan obat yang sengaja ditanam, dikelompokan atau diproses lebih lanjut menjadi bahan yang dapat mencegah hama, termasuk didalamnya berbagai maam bahan alami dan mineral seperti cairan gula asam, tembakau, arak, minyak serai, peppermint oil, minyak kamper, kertas perekat bewarna kuning bakteri Bacillus Thungringiensis, abu rumput dan kayu, arang batu dll.




PENGENDALAIAN RUMPUT
Rumput bisa menghambat pertumbuhan tanaman di lahan untuk menyebabkan tanaman tidak berproduksi secara normal. Budidaya tanaman organik tidak boleh menggunakan obat kimia untuk membasmi rumput, maka pencegahan rumput merupakan satu tantangan dalam budidaya tanaman organik. Cara-cara yang biasa dipergunakan adalah sebagai berikut:


(1). Memberantas rumput dengan mesin:
Ini adalah cara yang paling menghemat tenaga. Jika terdapat banyak rumput di lahan, maka sebelum rumput menjadi banyak dan sebelum penanaman, tanah diratakan terlebih dahulu. Setelah perataan berkali-kali rumput akan menjadi berkurang.
(2). Menutupi permukaan tanah:
Ini juga merupakan cara yang baik untuk mencegah rumput. Menutup tanah pada barisan tanaman dengan plastik berwarna perak (mulsa PHP) dapat mencegah serangga perusak tanaman. Pada musim kemarau jika suhu tinggi biasanya permukaan tanah dilapisi sisa-sisa tumbuhan seperti jerami untuk menurunkan suhu.
(3). Tumpang sari:
Diantara barisan tanman ditanami tanaman pupuk hujau yang cepet tumbuh atau tanaman merambat untuk menghambat pertumbuhan rumput.
(4). Pecabutan rumput dengan tenaga manusia:
Cara ini dilakukan untuk menunjang ketiga cara di atas guna memberantas rumput sampai ke akar-akarnya.


Oleh : Huang Chih Hsien ADC LPPM IPB Cikarawang

Sumber :http://cybex.ipb.ac.id/index.php/artikel/detail/komoditas/239
 

Posting Komentar

 
Top